Tuesday, June 8, 2010

DEATH





" Disaat hembusan nafas keluar dari 2 hidung kita,
Dan tak dapat di tarik kembali itu lah yang disebut " ajal kematian " menjemput kita "

Apakah suatu " KEMATIAN " selalu menjadi momok dalam kehidupan semua manusia ?

Apakah suatu " KEMATIAN " tabu untuk di perbincangkan ?

Apakah suatu " KEMATIAN " begitu mengerikan ?

Apakah suatu " KEMATIAN " itu menyakitkan ?

Apakah suatu " KEMATIAN " suatu akhir , TITIK , end of story atau masih ada cerita lain setelah itu ?

Apakah suatu " KEMATIAN " membuat kita kesepian ?

Apakah, apakah, apakah ...dan apakah ???

Mengapa " Kematian " begitu misterius untuk di mengerti. Mengapa tidak ada jalan , pegangan, hukum, teori , gambaran yang sangat jelas mengenai kematian. Apa yang di rasakan, bagaimana bedanya dengan hidup di dunia ini, apa yang mesti di lakukan disana ? bosankah disana ?. Mengapa tidak ada satu gambaran pun yang dapat menjelaskan semua hal ini ?

Semua di buat gelap, dan menakutkan. kenapa kematian itu di ciptakan begitu menyedihkan, menyakitkan, mencekam. Mengapa ? Mengapa sejak dulu , Nenek moyang kita, tidak menciptakan kematian menjadi ritual yang membahagiakan ? malah menjadikan ritual seperti itu.

Coba lah berjalan2 sekali-kali waktu , ke rumah-rumah duka. Semua orang dalam keadaan berduka, dan tak percaya bahwa dia telah kehilangan. Tapi sebenarnya semua orang berjalan , untuk mempersiapkan diri menuju kematian.

Kenapa pada saat ajal menjemput sesorang , kita harus " KAGET " , dan " TERPUKUL " . bukan kah semua orang sudah mengetahui dan memahami proses2 kehidupan... Lahir, Tua, Mati.

Pada saat pelayat2 datang, duduk memandangi sebuah tubuh yang tak berdaya sudah tenang. Apakah kita menyadari ? pada dasarnya kita sedang memandangi " Keadaan kita yang akan datang " . Kita sedang mengantri juga untuk memasuki gerbang " Kematian ".

Kemarin saya baru saja berjalan-jalan sejenak ke rumah duka. " Melayat " kata2 yang tepat. Jujur, buat saya momen-momen seperti ini semakin menyadarkan saya bahwa waktu saya tidak banyak. Dan waktu tidak pernah menunggu. Kita tidak pernah tau, kapan ""Kematian " menjemput kita. Dalam peti mati, bukan berisi " orang tua " . tapi bersisi " orang mati ". Tidak melulu orang tua yang meninggal lebih dulu bukan ?.

Saya tidak boleh terlena. Saya harus terus melakukan sesuatu. Dan sesuatu itu adalah berbuat baik serta bersyukur tanpa henti sebagai sebuah paket. Berbuat baik dan bersyukur bagi diri saya sendiri, orang-orang yang saya sayangi dan tentunya semua mahluk tanpa kecuali. Tidak bisa tidak. Karena saya percaya bahwa keberadaan saya di dunia ini punya makna. Tidak sekedar ‘ada’. Dan hanya perbuatan sayalah yang mampu memberikan definisi nyata sekaligus nilai lebih dari sekedar ‘ada’.

Terima kasih semesta atas pejalanan hari.

Terima kasih kepada suami saya, Didi atas seluruh cinta kasihnya ,kepercayaan dan perhatiannya kepada saya. Yang memberikan banyak arti dalam hidup saya.

Terima kasih tak terhingga juga untuk ke-2 anak saya, yang selalu memberikan pembelajaran baru mengenai kehidupan yang begitu polos dan begitu sederhana. Tanpa adanya benci,keji dan dendam.

Dan tak terlupakan kepada ke2 orang tua saya, yang telah memberikan kesempatan saya untuk dilahirkan, merasakan dunia ini, menilik dan bereksperimen, dan menyadari arti dari suatu kehidupan.

Yang terakhir kepada semua sahabat2 saya, yang baik hati dan yang bermusuhan. Dengan kalian saya banyak belajar arti dari suatu kesenangan, kegembiraan, kekecewaan, dan segala hal bentuk aroma-aroma yang indah dalam biduk-biduk duniawi ini.


Terima kasih kepada semua mahluk hidup di dunia atas perkenalannya di dunia nyata
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...