Tuesday, October 23, 2012

Keterbatasan dalam Bervegetarian

Di dunia dengan mayoritas omnivora ini, seorang Vegetarian yang berpergian , dan di tuntut harus bersosialisasi dalam hal menjamu tamu dan kolega menjadi repot dan terbatas. Apalagi berpergian menggunakan pesawat, harus warning jauh hari , kalau saya " vegetarian " , harus di sediakan menu khusus untuk saya. Terkadang ada beberapa maskapai yang tidak menyediakan , saya harus rela kelaparan , dengan bekal seadanya. Setiap meeting dengan tamu dan bisnis partner, saya harus memberitahu mereka kalau saya vegetarian, dengan kesusahan dan merepotkan mereka , mencari restaurant yang menyediakan makanan vegetarian, sungguh tidak enak menyusahkan mereka. Terkadang saya menutup-nutupi , supaya tamu tidak kecewa saya tetap bersikeras masuk ke restorant yang tidak menyediakan hidangan vegetarian,  segelas air putih dan roti atau sekedar makanan sederhana nasi goreng telor saja sudah cukup untuk menghargai dan menemani mereka. Dan setiap ke luar kota, selalu berupaya survei kecil di lakukan untuk mencari restorant vegetarian.

Sebagai vegetarian pemula ,sebenarnya saya sudah 8 tahun bervegetarian, dan sempat STOP sesaat untuk menikmati hewani , saya masih tetap harus beradaptasi.

Saya sering merenung : apakah ini keterbatasan atau cobaan / tantangan ? Keterbatasan di mana saya sulit menemukan makanan vegetarian yang layak, lalu dengan hati yang masih belom labil makan nasi pakai sayur yang terkadang masih terkontaminasi dengan daging dan sambal saja, dan sesekali melirik piring teman yang berlimpahkan lauk pauk. Apalagi saya sudah sempat mencicipi enaknya segala rasa daging , masih kuat bercokol di otak saya. Masih jelas banget rasa ayam bakar, sop buntut goreng, sate di lidah saya.

Tantangan dan cobaan adalah menghadapi situasi di lema, di antara kesulitan mendapatkan makanan yang layak, dan memilih untuk berserah menyantap hewan hidup kembali, atau tetap bersikeras memakan apa adanya, yang penting setelah itu Kemenangan yang di peroleh. Setiap hari perjuangan tantangan bagi seorang vegetarian terus bergulir.

Sejak dulu, dari kecil saya paling tidak suka makan daging-dagingan. Apalagi yang namanya daging babi. Saya ingat dulu mama saya sering sekali memaksa saya untuk memakan daging tersebut, katanya biar pintar. Alhasil selalu saya buang. Percaya tidak percaya sampai umur saya sudah segini, Daging kambing rasanya seperti apapun belom pernah saya rasakan.Tapi setelah saya memutuskan untuk menjadi seorang vegetarian , saya merasakan kebebasan.

Sering juga saya renungi, ketika seseorang memiliki banyak mobil, banyak tas, banyak sepatu. sebenarnya apakah semua yang di miliki itu , dikarenakan kebutuhan atau hanya koleksi pemenuhan nafsu. Kalau yang sudah memasuki tahap koleksi, berapa banyak pun tidak akan pernah cukup. Refleksi ini , sama seperti dengan makanan yang kita nikmati. Tujuan dari makanan itu sendiri menjadi kebutuhan hidup , atau hanya ajang koleksi kenikmatan indrawi. Kalau sudah menjadi koleksi pemuas nafsu mulut, seluruh hewan di dunia ini pun tidak akan ada cukupnya.

Seperti di arena Food Court, puluhan stand makanan lezat bertebaran disana, Saya hanya memilih satu menu  nasi gado gado atau nasi dengan tahu goreng. Teman teman berkerutkan dahi " kasian amat, makan cuma begitu aja ". Padahal apa bedanya dengan mereka, toh dari berpuluh puluh stand makanan disana, mereka juga akan memilih satu menu makan yang di pilih. Benar tidak ? Jadi ya apa bedanya. Ada baiknya, disaat kita makan kita harus berfikir apakah makan merupakan kebutuhan untuk hidup, atau hanya untuk pemuas nafsu lidah kita yang akhirnya membawa bencana untuk tubuh kita. Nikmatnya citarasa daging hanya sampai tenggorokan, pada saat melewati tenggorokan rasa apapun sudah tidak ada.

Banyak sebab yang membuat saya memilih untuk menjadi seorang vegetarian, Bukan semata hanya karena hal religius cinta kasih, tapi untuk menyeimbangi hidup sehat di dalam tubuh. Oleh karena itu saya mengurangi  konsumsi daging-dagingan. Coba kita perhatikan , orang yang sedang sakit stroke, diabetes, kanker, darah tinggi, kolestrol , dokter selalu menganjurkan pasiennya untuk mengurangi mengkonsumsi daging-dagingan atau diet daging-dagingan.. Jadi percaya lah , Pada dasarnya daging itu bukan konsumsi utama yang menguntungkan bagi tubuh kita.

Tapi didalam keterbatasan ini, budi dan cinta kasih sedang di uji. Dan saya memilih untuk hidup "sehat ". Sehat jasmaniah dan rohani.

Semoga semua mahluk berbahagia :)


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...