Thursday, January 26, 2017

Sparkle #3 - Value of our Kids

Belakangan ini saya cukup sedih melihat prilaku anak-anak, anak-anak yang tumbuh dengan otak yang pintar, Akademis yang berkualitas, tapi norma kehidupan yang kurang. Mereka tumbuh menjadi anak yang indiviualis, rentan/fragile, tidak mempunyai daya juang yang tinggi/ gampang menyerah, cuek, tidak peka. Cukup ngeri melihat perkembangan anak-anak jaman sekarang ? Bagaimana mereka bisa menghadapi kehidupan kedepan yang lebih berat , jauh lebih menantang di banding sekarang. Tidak hanya skill akademis yang di butuhkan, tetapi moral etika dan karakter yang kuat yang pasti harus berbeda dan mempunyai nilai, yang tidak kalah di butuhkan di masa yang akan datang.

Kondisi seperti ini siapa yang mesti di perhatikan dan di bentuk ? Apakah anaknya ? atau orang tuanya ? Dalam kondisi seperti ini, saya menjadi berintrospeksi diri. Duduk sambil berpikir. Seorang anak dari kecil bagaikan selembar kertas putih, apa yang di ajarkan itu yang di serap dan di tulis didalam chapter kehidupan mereka, dan di jadikan acuan pengetahuan hidup mereka.Apabila seorang anak selama kecilnya tidak pernah melihat dan di libatkan dan di ajak untuk mengerti kondisi kehidupan sosial sebenarnya , apa yang akan terjadi dengan mereka ?

Dalam membesarkan anak, Saya sering melihat orang tua hanya terfokus dengan merawat anak di banding mendidik anak. Setiap harinya Orang tua hanya terfokus merawat anak, dari menyiapkan perlengkapan mereka, kebutuhan2 anak-anak, mengurus keperluan anak-anak, Buat ibu2 ini, mereka ssudah menjalankan kewajiban seorang ibu. Ada sebagian anak menangkap bahwa Tugas seorang ibu layaknya seperti tugas seorang PRT, karena Tidak banyak sharing, tidak menanamkan nilai-nilai kehidupan, tidak berbagi ,(dengan alasan anak-anak terlalu kecil dan dini untuk mengerti urusan orang tua) , tidak melibatkan mereka dengan keadaan kehidupan yang sebenarnya. Sehingga ikatan dan pendidikan yang seharusnya didapat tidak diperoleh, anak pelan-pelan di ajak untuk menjadi anak yang tidak peka, ignorance, dan egois. Seorang anak dilatih untuk hanya merasakan hidup yang manis, dan hidup ini super instan, "gw mau apa pasti ada" tidak mau mengerti adanya proses, anak-anak menjadi terlatih menjadi seorang yang dominan, nilai kesopanan juga menjadi tidak penting.

Saya sangat setuju, bilang seorang anak, sejak dini di libatkan dengan kondisi masalah keluarga dalam skala kecil. artinya anak-anak sudah di berikan kesempatan untuk melihat dan belajar nilai-nilai kehidupan sejak dini. Dengan mereka dilibatkan mereka juga akan bertumbuh secara kearifan dan pengetahuan mereka dengan melihat bagaiman orang tua mereka berdiskusi dalam menyelesaikan suatu kendala. Dan anak-anak menjadi mengerti bahwa sebenarnya banyak hal yang tidak se instan itu, hidup ini penuh perjuangan, dan tidak boleh menyerah. Karena Orang tua saya juga begitu, dan mengajarkan hal itu ! Dan saya Melihatnya dan merasakannya.

Oleh karena itu banyak yang berkata, merawat anak lebih mudah di banding mendidik anak. Mencetak anak yang kuat, berprinsip, dan mengerti nilai kehidupan , dibutuhkan orang tua yang lebih kuat dan tangguh. Orang tua yang tidak boleh malas, dan rela lebih capek untuk mengajarkan anak untuk menjadi anak-anak yang tangguh dan kuat dan mempunyai karakter yang kuat dan baik.

Hugs to all parents, Yuk sama-sama kita belajar untuk memahami bahwa akademis bukan salah satu persyaratan untuk menjadi orang yang hebat dalam menghadapi dunia mereka. 

Love,
Sherlly Wu

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...